Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Faktor Memperpanjang Usia? Melayani Orang Lain?

Saat browsing di Microsoft Encarta Library semalam, saya menemukan sebuah data yang sangat menarik. Saya share kepada rekan-rekan sekalian. Please be reminded, ini hanya sebuah data yang tidak pernah ada kemutlakan! Dan saya hanya punya data estimasi dari Encarta tahun 2003. Tapi tetap menarik untuk disimak!

Saya sedang mencari data dari beberapa negara mengenai persentase masyarakat yang bekerja di dunia layanan (jasa) di berbagai negara. Secara iseng saya sekalian melihat angka rata-rata usia yang diperkirakan sesuai data tahun-tahun dan statistic sebelumnya. Dan saat menelusuri satu per satu, saya menemukan sebuah relasi yang cukup konsisten!

Di negara-negara yang masyarakatnya sebanyak 60% atau lebih bekerja di bidang pelayanan (jasa), penduduknya rata-rata mempunyai ekspektasi hidup yang lebih lama!!! Interesting!


Mari saya tunjukkan apa yang saya maksudkan.

Coba kita lihat, negara2 yang 60% atau lebih penduduknya bekerja di bidang layanan jasa, seperti Kanada (74%), Inggris (72%), USA (75%), Prancis (74%), Australia (70%), Italia (68%), Jerman (63%), rata-rata usia estimasi adalah dari 75 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Brasil (57%), Rumania (52%), Rusia (55%), Bulgaria (44%), yang rata-rata estimasi usianya dari 67 - 75 tahun.

Lalu kalau kita menilik Asia, kita mendapatkan Jepang dengan persentase penduduk di bidang jasa 63%, Singapura (68%), Korea Selatan (61%), yang estimasi usianya dari 71 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Korea Utara (30%), Cina (13%), India (20%), Malaysia (50%), Filipina (46%), Iran (45%), Thailand (33%) yang usia maksimal diestimasi 66 - 74 tahun.

Indonesia di mana? Kita mempunyai 37.1% penduduk bekerja di bidang service, dan guess what, estimasi usia penduduk Indonesia? 66 - 71 tahun!

Pengecualian yang saya temukan, misalnya negara-negara seperti Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan Brunei. Yang persentase penduduknya yang bekerja di bidang jasa di bawah 50%, tapi mempunyai estimasi hidup yang cukup panjang. Mungkin karena kaya akan minyak dan hidupnya senang?

Interesting, isn’t it?

Apakah ini kabar baik bagi kita yang bekerja di bidang jasa? Yang melayani orang lain? Walau kita hidup di Indonesia? Well, kalau itu belief yang berguna untuk Anda, live with it!!!

Entah benar atau tidak relasi di atas, valid atau tidak hubungannya, sah atau tidak data yang ada di Encarta, apalagi dari data 2-3 tahun lalu, yang ingin saya katakan adalah: it doesn’t matter!

Melayani adalah sikap mulia! Kalau kita mendapatkan usia panjang karenanya, itu adalah bonus buat kita! Relasinya yang saya tahu valid, sah, dan solid, adalah bahwa apabila kebaikan pelayanan kita bisa kita wariskan dan dinikmati turun-temurun dari generasi ke generasi, itu sama dengan usia kita yang tidak pernah putus, bukan?

Saya belum pernah melakukan studi khusus untuk ini, tapi setidaknya saya tahu, kakek saya, yang hidupnya dari kecil melayani orang lain di toko rotinya yang sederhana, dengan panggangan tradisional, sampai hari ini, usianya sudah di atas 90 tahun, masih ingin berjualan roti! Salah satu kakek saya juga yang dulunya bekerja di restoran dan hobbynya memasak untuk cucu-cucunya, beberapa tahun lalu meninggal dalam usia 80 tahun. Yang saya tahu secara pasti, mereka melayani dengan hati! Mungkin itu juga yang membedakan. Maybe.

So, let’s serve others! I mean, really serve with all our heart!
Today, right now!

(Hingdranata Nikolay)

TAKDIR, NASIB, SURATAN, RAMALAN, SIFAT, KEPRIBADIAN, DLL

Saya ingat semasa remaja dan masih suka bolak-balik lembaran zodiac, saya terbungkus rapi dalam dunia RAMALAN yang ada di situ.

Waktu itu saya bahkan sempat berkutat mendalam terhadap hal-hal yang berbau RAMALAN dan NASIB, berdasarkan tanggal lahir, shio, numerology, dll, untuk mengungkap RAHASIA di balik masa depan saya, yang dalam banyak istilah disebut sebagai NASIB, TAKDIR, SURATAN, atau apapun istilah dan maksudnya. Waktu itu, serasa exciting untuk bisa MENGENAL diri lebih jauh, bahkan ke masa depan.

Yang paling saya ingat adalah sebuah NASIHAT dari buku zodiac, yang secara spesifik juga berdasarkan tanggal lahir, yang mengatakan bahwa karena saya Capricorn, saya jangan sampai memilih pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang, karena akan membuat saya tidak nyaman.

Kalau saya mengingat isi nasihat tersebut, dan melhat diri saya hari ini, yang mana pekerjaan saya berhadapan langsung dengan ribuan orang per tahun, saya bertanya-tanya apakah berbagai bentuk konsep mengenai kita SEHARUSNYA begini-begitu berdasarkan tanggal lahir, bintang, shio, tulisan, bentuk tubuh, wajah, letak tahi lalat, warna kesukaan, garis tangan, jatuhnya stik bambu, dll tersebut adalah sebuah FAKTA atau hanya BELIEF belaka? Atau sesuatu yang kita PERCAYAI sebagai TAKDIR, NASIB, SURATAN, atau apapun istilah dan maksudnya?

Teman-teman saya sharing kepada saya bahwa kalau RAMALAN bintang mereka jelek, mereka tidak percaya, tapi kalau bagus, mereka percaya. Jadi apakah ini hanya soal BELIEF?

Seperti yang sering saya katakan kepada para peserta seminar, apabila yang namanya RAMALAN BINTANG itu sebuah FAKTA, akan banyak kesamaan pengalaman dan situasi yang dialami oleh kurang lebih 500 juta orang di seluruh dunia yang berbintang sama, pada saat yang sama (kalau mau perkirakan ada 6 milyar penduduk dunia yang dibagi ke dalam 12 bintang). Betul? Apakah itu MUNGKIN terjadi? Hanya 12 kemungkinan variasi situasi atau kejadian di seluruh dunia di hari atau waktu yang sama?

Hmmmhhhh……

Sekitar 10 tahun lalu, saya pernah mempelajari sebuah proses MERAMAL dengan kartu remi.

Sebuah proses yang unik dan indah.

Kalau saya ingat, malah lucu, karena setelah tahu saya bisa MERAMAL waktu itu, ada beberapa teman yang minta saya mem-BACA NASIB mereka tapi tolak karena berdasarkan aturan main prosesnya, harus hari Rabu dan Jumat, sesuai dengan aura yang akan membantu tersingkapnya NASIB J

Saya sempat memukau semua rekan saya yang saya temui dengan kemampuan MERAMAL ini.

Terutama karena sebelum mem-BACA masa depan mereka, agar mereka lebih percaya, saya lebih dulu mem-BACA masa lalu mereka.

Bahkan saya sempat memukau diri saya sendiri, karena apapun yang saya katakan mengenai masa lalu dan masa sekarang mereka (sebelum membaca masa depan), mereka seolah bisa menemukan dan membenarkan hal-hal yang saya BACA dari kartu. Mereka sering berteriak histeris “How do you know?!!!”

Pertanyaannya, apakah saya memang mem-BACA masa lalu mereka, atau mereka yang MENCARI-CARI hal-hal di masa lalu mereka yang SESUAI atau COCOK dengan apa yang saya BACA-kan lalu membenarkannya?

Beberapa dari mereka mungkin sekarang ini tengah me-WUJUD-kan apa yang saya BACA mengenai masa depan mereka waktu itu. Kalau mereka BENAR-BENAR PERCAYA.

Hmmmmhhh...

Lalu bagaimana dengan berbagai konsep berdasarkan SIFAT atau KEPRIBADIAN?

Apakah RAHASIA yang tersibak di balik konsep mewakili apa yang kita tunjukan sehari-hari, atau sebaliknya, yang kita tunjukan sehari-hari yang seolah mewujudkan apa yang kita telah baca dan ketahui dari RAHASIA yang diungkap oleh berbagai konsep yang ada?

Dengan kata lain, apakah konsep menggambarkan SIFAT atau KEPRIBADIAN kita, atau malah SIFAT atau KEPRIBADIAN kita terbentuk berdasarkan gambaran konsep setelah kita tahu konsep tersebut?

Pertanyaannya: apakah milyaran penduduk dunia bisa dibagi ke dalam HANYA beberapa jenis KEPRIBADIAN? 4 jenis KEPRIBADIAN misalnya? Atau 16 jenis? Atau ...?

Setelah Anda tahu bahwa Anda masuk kategori KEPRIBADIAN tertentu, dan Anda MERASA bahwa itu benar, apakah Anda akan tetap hidup seperti sediakala atau apakah Anda seolah menyesuaikan diri Anda ke dalam konsepnya, misalnya dengan mengikuti anjuran, saran, arahan dari para ahli KEPRIBADIAN tersebut untuk kategori Anda, agar hidup Anda bahagia?

Mari berpikir sejenak.

Apakah hal-hal yang kita PERCAYAI mengenai SIAPA kita, NASIB kita, TAKDIR, SIFAT, KEPRIBADIAN, dll., adalah sebuah FAKTA, atau hanya sebuah BELIEF yang kita sendiri akhirnya WUJUDKAN sehari-hari karena kita PERCAYA itu adalah FAKTA.
Kalau itu adalah FAKTA, bukankah apapun yang kita pikirkan dan lakukan, tidak akan ada perubahan?

Apakah hidup kita se-KAKU itu?

Apakah kita semudah itu ter-PROGRAM?

Bagaimana kalau itu adalah sesuatu yang buruk dan bukan yang kita INGINKAN?

Apakah kita terima dan telan saja, karena merasa itu sudah NASIB, TAKDIR, atau apapun itu istilahnya?

Seperti di NLP, disarankan, kita tidak perlu berlama-lama berkutat di pergunjingan soal BENAR atau SALAH.

Termasuk apakah hal-hal mengenai NASIB, TAKDIR, SURATAN, RAMALAN, SIFAT, KEPRIBADIAN, dll, itu BENAR atau SALAH.

Kenapa tidak fokus saja pada apakah yang dipikirkan atau dipergunjingkan tersebut BERGUNA atau tidak untuk mencapai apa yang kita INGINKAN?

Kalau memang ada konsep yang ternyata justru membantu kita untuk mencapai apa yang kita INGINKAN, bungkus dan jadikan bagian dari diri kita.

Kalau tidak membantu dan malah membatasi kita dari kemampuan atau keinginan untuk bisa memikirkan atau melakukan sesuatu yang bisa membantu mencapai KEINGINAN kita, apakah worth it untuk kita jadikan bagian dari diri kita?

Apakah FUN untuk berada dalam sebuah kotak yang kita tahu membatasi kita dari berbagai KEMUNGKINAN yang exciting dan menantang di luar sana?

Better question: “IS IT MEANINGFUL AND USEFUL FOR US?

Just a thought, friend!

Just a thought!


(Hingdranata Nikolay)

Kisah Sebuah Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.
Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei, semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.
Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka zkini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.
Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.
Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Sobat, begitulah hidup. Kita seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Sobat, coba susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita. Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat
kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan
kepiting sawah.

Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap
untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan
ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom,
sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil
buruannya selalu berusaha meloloskan diri.

Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.

Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom,
teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.

Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya
akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah
sekawanan kepiting yang dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini, tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.

Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami
kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih
dengan jalan yang nggak bener.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi,
sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera
kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau
persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting
dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam
suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.

Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi)
yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam
bertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan
dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang
akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.

Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom,
namun yah... dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya.

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara
menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.
Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda
menjadi pribadi yang sehat dan sukses.

Betapa pun banyaknya kucing berkelahi, selalu saja banyak anak kucing
lahir. (Abraham Lincoln)

Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada
kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari
tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh
selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari
mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air
setengah penuh.

Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

“mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?”"Saya hanya mampu,
selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah
membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas
kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air
berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan
cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di
sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata
air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat
memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.

Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Memberi dan Berbuat untuk Orang Lain

John D. Rockfeller, seorang yang pernah menjadi orang terkaya di Amerika dan dunia, bisa 'memperpanjang' usianya selama 45 tahun dari sewaktu berusia 53 tahun dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan (rapuh, kepala hampir botak, punggung bongkok, mata yang kekurangan semangat hidup), sampai akhirnya bisa meninggal di usia 98 tahun. Sepanjang hidupnya sampai berusia 53 tahun, dia sangat kikir dan sering dilanda kecemasan mengenai harta yang sudah dimiliki dan masih berharap bisa mendapatkan banyak harta di masa mendatang.

Suatu pagi Rockfeller ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di atas lantai kantor oleh rekan bisnisnya. Menyadari kondisi ini terjadi karena si Kaya merasa sedemikian cemas mendapat berita semalam bahwa kapalnya yang penuh dengan muatan akan tetapi tanpa asuransi sedang berjuang keras melewati badai dahsyat di lautan yang sedang diarungi, si rekan bisnis menawarkan untuk mencoba membeli asuransi bagi muatan kapal tersebut. Melihat kesempatan untuk tidak rugi besar karena karamnya kapal akan membuat pihak asuransilah yang harus membayar harga muatannya, Rockfeller segera mengiyakan.

Si rekan bisnis begitu gembira setelah berhasil membeli dan menutup asuransi seperti yang disepakati dengan John. Akan tetapi yang didapati setibanya di kantor adalah kondisi John D. Rockfeller yang semakin sekarat di atas lantai. Ternyata begitu dia ditinggalkan, Rockfeller menerima kabar bahwa kapal tersebut selamat sedang dia tidak berdaya untuk mencegah temannya membeli asuransi sehingga dia merasa begitu nelangsa karena harus kehilangan uang untuk membeli asuransi.

Setelah kejadian tersebut, John D. Rockfeller lebih bermurah hati dan menggunakan kekayaannya untuk lebih banyak memberi dan berbuat bagi orang lain sehingga membawa kebahagiaan yang berujung pada 'perpanjangan' usianya hingga mencapai sedemikian lanjut.

Pertanyaannya sudahkah kita menggunakan hal-hal baik dan kemampuan yang kita miliki saat ini untuk sedikit memberi dan berbuat bagi orang lain yang membutuhkan ?

Seringkali kita menikmati semua yang kita miliki untuk diri kita sendiri tanpa mau mengingat bahwa masih banyak orang-orang yang lebih menderita di sekitar kita dan memerlukan uluran tangan kita. Perbuatan baik kita tidak harus yang besar dan mentereng tetapi cukup dengan kebaikan-kebaikan kecil yang terus-menerus dilakukan. Kata pepatah 'sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit'.

Kisah Sebuah Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Sayangilah Orang Terdekatmu

Jika kamu memancing ikan
setelah ikan itu terlekat di mata kail
hendaklah kamu mengambil ikan itu,
janganlah kamu lepaskan begitu saja
ke dalam air seperti pada awalnya
karena ia akan sakit terkena bisanya,
ketajaman mata kailmu dan mungkin
ia akan menderita selagi ia masih hidup.

begitulah juga setelah kamu memberi
banyak pengharapan kepada seseorang
setelah ia mula menyayangimu
hendaklah kamu menjaga hatinya,
jangan sesekali kamu meninggalkan dia begitu saja
karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu
dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya
selagi ia masih menyayangi kamu.

jika kamu mengisi tempayan dgn air
biarkan air itu mengisi secukupnya
sesuai dgn yang kamu perlukan saja
jangan terlalu mengharap
untuk mingisinya sampai penuh
karena belum tentu kamu kuat memegang
tempayan itu jika sudah penuh terisi air
apabila sampai terjatuh dan pecah berkeping-keping
tentu sukar bagimu untuk menyatukan seperti semula
dan pada akhirnya ia dibuang
karena sudah tak berguna lagi

begitu juga jika kamu memiliki seseorang
terimalah dia apa adanya
janganlah kamu terlalu mengaguminya
dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa
anggaplah dia manusia biasa,
apabila sesekali dia melakukan kesalahan,
bukankah mudah bagimu untuk menerimanya
sehingga kamu tidak akan kecewa dan meninggalkannya
karena menganggapnya tidak seperti yang kamu harapkan

jika kamu telah memiliki sepiring nasi
yang kamu rasa sudah
membuat dirimu kenyang... nikmat...
mengapa kamu beralih coba mencari
makanan yang lain,
terlalu ingin mengejar kelezatan
kelak nasi itu akan basi
dan kamu tidak boleh memakannya
sehingga kamu akan menyesal.

begitu juga jika kamu telah bertemu
dengan seorang insan
yang pasti membawa kebaikan kepada dirimu,
menyayangimu... mengasihimu...
mengapa kamu ingin coba
membandingkannya dengan yang lain
terlalu mengejar kesempurnaan
kelak kamu akan kehilangannya
apabila ia menjadi milik orang lain,
kamu juga akan menyesal.

Gratis Sepanjang Masa

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku,,, dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu, tulisan itu: “SEMUANYA LUNAS”

Sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu. Kasih ibu sepanjang masa, dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? Menukar dengan bilangan angka? Atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih sepanjang jalan? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya. Oleh karenanya sahabatku, berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau.

Acceptance

Acceptance means
that you can find the serenity within
to let go of the past
with its mistakes and regrets,

and move into the future
with a new perspective,
appreciating the opportunity
to take a second chance.

Acceptance means
you’ll find security again
when difficult times come into your life,
and comfort to relieve any pain.

You’ll find new dreams, fresh hopes,
and forgiveness of the heart.

Acceptance does not mean
that you will always be perfect.
It simply means that
you’ll always overcome imperfection.

Acceptance is the road to peace -
letting go of the worst,
holding on to the best,
and finding the hope inside
that continues throughout life.

Acceptance
is the heart’s best defense,
love’s greatest asset,
and the easiest way
to keep on believing
in yourself and others.

Albert Einstein’s Theory of Life

Sometimes in our relentless efforts to find the person we love we fail to recognize and appreciate the people who love us. We miss out on so many beautiful things simply because we allow ourselves to be enslaved by selfish concerns. Go for the man of deeds and not the man of words for you will find rewarding happiness not with the man you love but with the man who loves you more. The best lovers are those capable of loving from a distance far enough to allow that person to grow, but never too far to feel the love deep with in your being. To let go of someone doesn’t mean you have to stop loving, it only means that you allow that person to find his own happiness without expecting him to come back. Letting go is not just setting the other person free, but it is also setting you free from all bitterness, hatred and anger that you keep in your heart. Do not let the bitterness rare away your strength and weaken your faith, and never allow pain to dishearten you, but rather let yourself grow with wisdom in bearing it. You may find peace in just loving someone from a distance not expecting anything in return. But be careful, for this can sustain life but can never give enough room for us to grow. We can all survive with just beautiful memories of the past but real peace and happiness come only with open acceptance of what reality is today. There comes a time in our lives when we chance upon someone so nice and beautiful and we just find ourselves getting so intensely attracted to that person. This feeling soon becomes a part of our everyday lives and eventually consumes our thoughts and actions. The sad part of it is when we get to realize that this person feels nothing more for us than just a friendship, we start our desperate attempt to get noticed and be closer but in the end our efforts are still unrewarded and we end up being sorry for ourselves. You don’t have to forget someone you love. What you need to learn to accept the verdict of reality without being bitter or sorry for yourself. Believe me you would be better off giving that dedication and love to someone more deserving. Don‘t let your heart run your life, be sensible and let your mind speak for itself. Listen not only to your feelings but to reason as well. Always remember that if you lose someone today, it means that someone better is coming tomorrow. If you lose love that doesn’t mean that you failed in love. Cry if you have to, but make it sure that the tears wash away the hurt and the bitterness that the past has left with you. Let go of yesterday and love will find its way back to you. And when it does, pray that it may be the love that will stay and last a lifetime. There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle; the other is though everything is a miracle.

Tujuan Hidup

Bayangkan anda saat berada di tengah
samudera di atas sebuah
speedboat. Lima puluh kilometer di depan
anda adalah sebuah
pulau, dan di pulau itu terdapat semua
yang anda inginkan dan
cita-citakan. Semua impian anda. Dan
satu-satunya cara untuk
mendapatkan itu semua adalah sampai ke
pulau tersebut. Pulau
itu ada di belakang cakrawala. Tapi
cakrawala yang mana?

Masalahnya adalah anda tidak punya
kompas, peta, radio,
telepon, dan anda tidak tahu mana arah
ke pulau tersebut.
Arah yang salah akan membuat anda
melenceng jauh sekali dari
pulau impian, sementara di sekeliling
anda yang terlihat cuma
laut dan langit. Dalam dua jam, anda
bisa saja telah sampai
di pulau impian. Tetapi bila anda salah
arah, anda bisa
kehabisan bahan bakar sebelum bisa
mencapai pulau impian.

Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa
mengetahui dan mengerti
kegunaan hidup anda, adalah sama dengan
dilema pulau impian.
Semua impian anda sebenarnya bisa
tercapai, namun untuk
mencapainya anda harus mengetahui apa,
di mana, dan bagaimana
mencapainya.

Anda mutlak mengetahui arah untuk
mencapainya, dan untuk
itu anda memerlukan peta. Tentukan peta
anda sekarang,
untuk dapat mencapai impian anda. Buat
seteliti dan seakurat
mungkin, dan selanjutnya anda tinggal
mengarahkan speedboat
ke pulau impian anda.

PNS makan Sate

Ada seorang pegawai negeri yang saleh pulang kerja lembur pada akhir bulan. Sementara pulang, dalam keadaan perut lapar sehabis lembur, dia berpikir alangkah enaknya kalau sampai di rumah nanti makan nasi panas dengan lauknya yang dibuat isteri tercintanya. Setelah sampai rumah dia disambut isterinya lalu cuci tangan dan minta disediakan makan. Isterinya menyampaikan bahwa makanan yang ada tinggal nasi dan hanya sedikit sayur bayam tanpa lauk. Sebagai orang yang saleh si pegawai negeri bersyukur karena menyadari bahwa setiap akhir bulan uang pasti sudah habis sehingga bisa makan pun sudah syukur.


Tiba-tiba dia punya ide alangkah nikmatnya kalau sore itu makan dengan sate ayam yang ada di dekat rumahnya karena sehabis lembur dia dapat uang transport yang bisa dipakai jajan sate ayam. Namun dia berpikir alangkah egoisnya kalau dia makan sate sendirian dan isterinya tidak. Dan besok mereka harus makan apa kalau uangnya dipakai jajan sate. Makan sate berdua dengan uang transport yang didapat barusan tidak cukup. Sebagai orang yang saleh dia memutuskan untuk memberikan uangnya kepada isterinya untuk membeli lauk pauk untuk besoknya. Tapi sore ini lauknya tidak ada. Maka pikirnya mungkin nikmat juga kalau dia makan nasi panas di dekat penjual sate sebab jika bisa mencium baunya saja rasanya sudah seperti makan sate sungguhan. Maka berangkatlah dia sambil bawa nasi sendiri ke dekat tukang sate. Tentu dia cari posisi duduk dimana angin bertiup. Maka makanlah si pegawai negeri itu dengan lahap sambil tersenyum, rupanya nikmat juga walaupun hanya mencium bau sate.

Lalu selesailah sudah makannya dan perut sudah kenyang tetapi alangkah terkejutnya ketika mau pulang dia ditagih penjual sate untuk membayar. Dia berdalih bahwa dia tidak makan satenya. Jawab tukang sate ngotot bahwa kalau tidak ada bau sate yang dia bikin tentu tidak bisa makan dengan lahap. Lanjutnya bahwa dia duduk dekat tempat jualan sate memang dengan sengaja mau mencium aroma sate sebagai lauk makannya. Tukang sate tetap menuntut bayaran atas aroma sate itu.

Bingunglah si pegawai negeri ini atas tuntutan si penjual sate karena tidak punya uang sama sekali. Ketika tanya berapa harus bayar maka tukang sate menjawab kalau nasi sate 5 ribu rupiah maka untuk mencium dengan sengaja aroma sate cukup seribu saja. Cukup fair juga tukang sate itu. Sementara berdebat kebetulan datanglah ketua RT setempat, orang tua yang dikenal bijaksana, ke tempat itu untuk membeli sate. Maka mengadulah mereka masing-masing dengan argumentasinya kepada orang tua bijaksana ini. Mereka berjanji apa saja yang diputuskan orang tua ini akan mereka turuti karena mereka tahu pasti akan ada jalan keluar. Pikir tukang sate pastilah dia akan dibayar tetapi pikir si pegawai negeri pastilah tidak akan disuruh membayar karena memang tidak pernah merasakan sate kecuali aromanya saja.

Terjadilah suasana hening menunggu keputusan. Lalu orang tua itu berkata bahwa si pegawai negeri memang harus membayar karena dengan sengaja telah mencium aroma sate dengan tujuan sebagai lauknya meskipun hanya dalam bayangannya. Maka terkejutlah si pegawai negeri dan tersenyumlah si tukang sate atas keputusan itu. Si pegawai negeri terhenyak berpikir bagaimana dia harus membayarnya karena tidak punya uang. Mendadak orang tua bijaksana itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang recehan seratusan dan dua ratusan dari kantong celananya dan mulai menghitung seratus, dua ratus, lima ratus, cring.. cring.. cring... sampai genap seribu rupiah. Semua mata memperhatikan tangan sang orang tua tersebut ketika menghitung uangnya.

Lalu katanya kepada si penjual sate, "Apakah anda melihat uang yang saya hitung jumlahnya seribu?"

Jawab si tukang sate, "Benar".

Orang tua itu juga bertanya, "Apakah anda juga mendengar gemerincing uang yang saya hitung?"

Jawab si tukang sate itu pula, "Benar".

"Baiklah kalau begitu", kata orang tua bijaksana kepada kedua orang yang bersengketa, "Persoalan ini telah selesai!".

Terkejutlah si tukang sate bagaimana akhirnya bisa begini. Orang tua itu menjelaskan, "Yang satu dituntut membayar karena telah mencium aroma sate dan yang lain tentu juga harus puas telah dibayar setelah melihat dan mendengar gemericingnya uang seribu rupiah, karena yang satu hanya dapat 'makan sate' dalam bayangannya maka cukuplah adil yang lainya juga dibayar dengan 'melihat dan mendengar' uangnya saja.."

***

Pesan moralnya bahwa ada banyak pesan agama yang sangat berguna yang telah didengar, dilihat bahkan dirasakan, tetapi ternyata hanya sampai di pikiran atau menjadi pengetahuan saja, namun tidak benar-benar dialami atau dilakukan.

Banyak ajaran melalui para pemuka agama yang telah didengar, dipahami, bahkan dapat dirasakan kebenarannya, tetapi apakah ini hanya semacam "bau sate" saja, tetapi tidak pernah dialami atau dilakukan? Meskipun ketika mendengar sangatlah tersentuh dengan kepala manggut-manggut bahkan sampai menangis...

Semoga memberi inspirasi!

Menulis di Atas Pasir

Ada sebuah kisah tentang 2 org sahabat karib yg sedang melakukan perjalanan melintasi padang gurun. Di tengah perjalanan mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Org yg kena tampar merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas PASIR. Tulisannya spt ini: HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah oasis, dan mereka berdua memutuskan untuk mandi di situ. Org yg kena tampar dan terluka hatinya mencoba berenang namun nyaris tenggelam. Dia berteriak-teriak meminta tolong. Akhirnya sahabatnyalah yang menolong dia. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang, dia menulis lagi sebuah kalimat. Kalimat tersebut berbunyi: HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Namun dia menulisnya di atas sebuat BATU. Lalu org yg menolong dan menampar sahabatnya bertanya : “Knp setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulisnya di atas batu?” Temannya menjawab sambil tersenyum: “Ketika seorang sahabat melukai hati kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan apabila sesuatu yang luar biasa terjadi yg membuat diri kita bahagia, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tdk bisa hilang tertiup angin. Sehingga tetap terukir abadi (sebagai kenangan yg terindah, kaya lirik lagunya Samsom :p) selamanya dihatimu.------- Teman, dlm hidup ini tdk jarang kita berselisih akibat perbedaan pendapat yg mengakibatkan konflik karena sudut pandang yg berbeda. Oleh karena itu cobalah utk saling memaafkan dan lupakan masa lalu. Belajarlah menulis di atas pasir utk sgala hal yg menyakiti hatimu. Shg kamu dgn mudah utk memaafkannya. Kenanglah setiap perbuatan baik yg mereka lakukan kpdmu. Hal ini akan membuat hidupmu lebih bahagia. Since we all need forgiveness we should always be forgiving.

Ahli Batu

Cerita tukang batu Hiduplah seorang ahli batu yang sangat
terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri.
Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi
perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah
di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan
safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.

Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha
mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha
berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu.
Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat,
dan bersedia menjalani ujian.

"Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit," ucap sang ahli membuka pembicaraan.
"Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu
layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka
kamu harus mengulang ujian itu besok." Anak muda itu mendengarkan dengan
seksama. Ia mengangguk pelan, "Baiklah, itu pekerjaan mudah."

Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.
Disodorkannya ke arah muka si anak muda. "Ayo, ambil". Hap. Tampak kedua tangan
yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia
kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. "Kamu belum berhasil
anak muda. Cobalah besok." Sang pemuda tampak kecewa.

Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi,
dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian
itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah
terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak
putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti
dan tak mau menjadi ahli permata.

Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli
bertanya, "Kamu sudah siap?" Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas
gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, "Hei, tunggu dulu. Itu
bukan batu yang biasa kita gunakan!" Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda
malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari
sang ahli batu. "Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!"

Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan
mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan,
acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah
kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan.

Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu
untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu
bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi
pemenang? Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya
kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu
bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini
saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup.
Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian
kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.

Tahta Untuk Sang Putri

Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President & CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?

Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.

Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri
judinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.

Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.

Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.

Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.

Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian
dibanding kedua kakaknya.

Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.

Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.

Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO?

Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu.

Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling

buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender.

Bagaimana jalan keluarnya?

Konsultan angkat tangan.

Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah. Lalu dipanggilnya ketiga anaknya.

Dibentangkannya persoalan secara gamblang.

Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing

memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga.

Dialog pun dimulai.

Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi.

“Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut.

Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian.

“Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi.

Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya.

Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat.

“Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya.

Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging.

“Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya.

Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong.

“Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja.

Lalu disulutnya dengan sebatang korek api.

“Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem.

Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.

Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at
any given situation.

Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.

Dari dulu botak memang ciri orang pintar.

Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada
the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.

Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat
bergelar master, doktor, dan profesor.

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, Betul, Dia yang menciptakan semuanya. Tuhan menciptakan semuanya? Tanya professor sekali lagi. Ya, Pak, semuanya kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan yg kita lakukan menjelaskan siapakah diri kita. Oleh karena itu jika Tuhan menciptakan kejahatan maka kita dpt berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan juga.

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Ke-Tuhanan itu adalah sebuah mitos.

Ada seorang Mahasiswa yg mengangkat tangan dan berkata, Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?

Tentu saja, jawab si Profesor Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, Profesor, apakah dingin itu ada?

Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu? Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin
itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460 Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi
diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, Profesor, apakah gelap itu ada?
Profesor itu menjawab, Tentu saja itu ada.

Mahasiswa itu menjawab, Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak
ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, Profesor, apakah kejahatan itu ada?

Dengan bimbang professor itu menjawab, Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein (Kisah Nyata).

Semangkuk Bakmi

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”
Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES
ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH
HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG INDAH DIDALAM TUHAN.



Baca Artikel Lainnya:


- Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

- Tahta Untuk Sang Putri

- Ahli Batu



Artikel Sebelumnya
INDEX
Artikel Selanjutnya


HOME

Harga Keajaiban

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.

Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.

Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase.

Berhasil !

“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah.

“Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”

“Apa yang kamu katakan?” ,tanya sang apoteker.

“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya.

“Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi.

Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang.”

“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga.

“Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal….

Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut.

“Operasi itu,” bisik ibunya, “Adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan



Baca Artikel Lainnya:

- Lima Ekor Monyet

- Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

- Tahta Untuk Sang Putri



Artikel Sebelumnya

INDEX
Artikel Selanjutnya

HOME

Membeli Waktu Ayah

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.

Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak.

Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya, Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000 ,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.



Baca Artikel Lainnya:

- Semangkuk Bakmi

- Lima Ekor Monyet

- Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?



Artikel Sebelumnya

INDEX
Artikel Selanjutnya

HOME