Saat browsing di Microsoft Encarta Library semalam, saya menemukan sebuah data yang sangat menarik. Saya share kepada rekan-rekan sekalian. Please be reminded, ini hanya sebuah data yang tidak pernah ada kemutlakan! Dan saya hanya punya data estimasi dari Encarta tahun 2003. Tapi tetap menarik untuk disimak!
Saya sedang mencari data dari beberapa negara mengenai persentase masyarakat yang bekerja di dunia layanan (jasa) di berbagai negara. Secara iseng saya sekalian melihat angka rata-rata usia yang diperkirakan sesuai data tahun-tahun dan statistic sebelumnya. Dan saat menelusuri satu per satu, saya menemukan sebuah relasi yang cukup konsisten!
Di negara-negara yang masyarakatnya sebanyak 60% atau lebih bekerja di bidang pelayanan (jasa), penduduknya rata-rata mempunyai ekspektasi hidup yang lebih lama!!! Interesting!
Mari saya tunjukkan apa yang saya maksudkan.
Coba kita lihat, negara2 yang 60% atau lebih penduduknya bekerja di bidang layanan jasa, seperti Kanada (74%), Inggris (72%), USA (75%), Prancis (74%), Australia (70%), Italia (68%), Jerman (63%), rata-rata usia estimasi adalah dari 75 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Brasil (57%), Rumania (52%), Rusia (55%), Bulgaria (44%), yang rata-rata estimasi usianya dari 67 - 75 tahun.
Lalu kalau kita menilik Asia, kita mendapatkan Jepang dengan persentase penduduk di bidang jasa 63%, Singapura (68%), Korea Selatan (61%), yang estimasi usianya dari 71 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Korea Utara (30%), Cina (13%), India (20%), Malaysia (50%), Filipina (46%), Iran (45%), Thailand (33%) yang usia maksimal diestimasi 66 - 74 tahun.
Indonesia di mana? Kita mempunyai 37.1% penduduk bekerja di bidang service, dan guess what, estimasi usia penduduk Indonesia? 66 - 71 tahun!
Pengecualian yang saya temukan, misalnya negara-negara seperti Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan Brunei. Yang persentase penduduknya yang bekerja di bidang jasa di bawah 50%, tapi mempunyai estimasi hidup yang cukup panjang. Mungkin karena kaya akan minyak dan hidupnya senang?
Interesting, isn’t it?
Apakah ini kabar baik bagi kita yang bekerja di bidang jasa? Yang melayani orang lain? Walau kita hidup di Indonesia? Well, kalau itu belief yang berguna untuk Anda, live with it!!!
Entah benar atau tidak relasi di atas, valid atau tidak hubungannya, sah atau tidak data yang ada di Encarta, apalagi dari data 2-3 tahun lalu, yang ingin saya katakan adalah: it doesn’t matter!
Melayani adalah sikap mulia! Kalau kita mendapatkan usia panjang karenanya, itu adalah bonus buat kita! Relasinya yang saya tahu valid, sah, dan solid, adalah bahwa apabila kebaikan pelayanan kita bisa kita wariskan dan dinikmati turun-temurun dari generasi ke generasi, itu sama dengan usia kita yang tidak pernah putus, bukan?
Saya belum pernah melakukan studi khusus untuk ini, tapi setidaknya saya tahu, kakek saya, yang hidupnya dari kecil melayani orang lain di toko rotinya yang sederhana, dengan panggangan tradisional, sampai hari ini, usianya sudah di atas 90 tahun, masih ingin berjualan roti! Salah satu kakek saya juga yang dulunya bekerja di restoran dan hobbynya memasak untuk cucu-cucunya, beberapa tahun lalu meninggal dalam usia 80 tahun. Yang saya tahu secara pasti, mereka melayani dengan hati! Mungkin itu juga yang membedakan. Maybe.
So, let’s serve others! I mean, really serve with all our heart!
Today, right now!
(Hingdranata Nikolay)
Saya ingat semasa remaja dan masih suka bolak-balik lembaran zodiac, saya terbungkus rapi dalam dunia RAMALAN yang ada di situ.
Waktu itu saya bahkan sempat berkutat mendalam terhadap hal-hal yang berbau RAMALAN dan NASIB, berdasarkan tanggal lahir, shio, numerology, dll, untuk mengungkap RAHASIA di balik masa depan saya, yang dalam banyak istilah disebut sebagai NASIB, TAKDIR, SURATAN, atau apapun istilah dan maksudnya. Waktu itu, serasa exciting untuk bisa MENGENAL diri lebih jauh, bahkan ke masa depan.
Yang paling saya ingat adalah sebuah NASIHAT dari buku zodiac, yang secara spesifik juga berdasarkan tanggal lahir, yang mengatakan bahwa karena saya Capricorn, saya jangan sampai memilih pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang, karena akan membuat saya tidak nyaman.
Kalau saya mengingat isi nasihat tersebut, dan melhat diri saya hari ini, yang mana pekerjaan saya berhadapan langsung dengan ribuan orang per tahun, saya bertanya-tanya apakah berbagai bentuk konsep mengenai kita SEHARUSNYA begini-begitu berdasarkan tanggal lahir, bintang, shio, tulisan, bentuk tubuh, wajah, letak tahi lalat, warna kesukaan, garis tangan, jatuhnya stik bambu, dll tersebut adalah sebuah FAKTA atau hanya BELIEF belaka? Atau sesuatu yang kita PERCAYAI sebagai TAKDIR, NASIB, SURATAN, atau apapun istilah dan maksudnya?
Teman-teman saya sharing kepada saya bahwa kalau RAMALAN bintang mereka jelek, mereka tidak percaya, tapi kalau bagus, mereka percaya. Jadi apakah ini hanya soal BELIEF?
Seperti yang sering saya katakan kepada para peserta seminar, apabila yang namanya RAMALAN BINTANG itu sebuah FAKTA, akan banyak kesamaan pengalaman dan situasi yang dialami oleh kurang lebih 500 juta orang di seluruh dunia yang berbintang sama, pada saat yang sama (kalau mau perkirakan ada 6 milyar penduduk dunia yang dibagi ke dalam 12 bintang). Betul? Apakah itu MUNGKIN terjadi? Hanya 12 kemungkinan variasi situasi atau kejadian di seluruh dunia di hari atau waktu yang sama?
Hmmmhhhh……
Sekitar 10 tahun lalu, saya pernah mempelajari sebuah proses MERAMAL dengan kartu remi.
Sebuah proses yang unik dan indah.
Kalau saya ingat, malah lucu, karena setelah tahu saya bisa MERAMAL waktu itu, ada beberapa teman yang minta saya mem-BACA NASIB mereka tapi tolak karena berdasarkan aturan main prosesnya, harus hari Rabu dan Jumat, sesuai dengan aura yang akan membantu tersingkapnya NASIB J
Saya sempat memukau semua rekan saya yang saya temui dengan kemampuan MERAMAL ini.
Terutama karena sebelum mem-BACA masa depan mereka, agar mereka lebih percaya, saya lebih dulu mem-BACA masa lalu mereka.
Bahkan saya sempat memukau diri saya sendiri, karena apapun yang saya katakan mengenai masa lalu dan masa sekarang mereka (sebelum membaca masa depan), mereka seolah bisa menemukan dan membenarkan hal-hal yang saya BACA dari kartu. Mereka sering berteriak histeris “How do you know?!!!”
Pertanyaannya, apakah saya memang mem-BACA masa lalu mereka, atau mereka yang MENCARI-CARI hal-hal di masa lalu mereka yang SESUAI atau COCOK dengan apa yang saya BACA-kan lalu membenarkannya?
Beberapa dari mereka mungkin sekarang ini tengah me-WUJUD-kan apa yang saya BACA mengenai masa depan mereka waktu itu. Kalau mereka BENAR-BENAR PERCAYA.
Hmmmmhhh...
Lalu bagaimana dengan berbagai konsep berdasarkan SIFAT atau KEPRIBADIAN?
Apakah RAHASIA yang tersibak di balik konsep mewakili apa yang kita tunjukan sehari-hari, atau sebaliknya, yang kita tunjukan sehari-hari yang seolah mewujudkan apa yang kita telah baca dan ketahui dari RAHASIA yang diungkap oleh berbagai konsep yang ada?
Dengan kata lain, apakah konsep menggambarkan SIFAT atau KEPRIBADIAN kita, atau malah SIFAT atau KEPRIBADIAN kita terbentuk berdasarkan gambaran konsep setelah kita tahu konsep tersebut?
Pertanyaannya: apakah milyaran penduduk dunia bisa dibagi ke dalam HANYA beberapa jenis KEPRIBADIAN? 4 jenis KEPRIBADIAN misalnya? Atau 16 jenis? Atau ...?
Setelah Anda tahu bahwa Anda masuk kategori KEPRIBADIAN tertentu, dan Anda MERASA bahwa itu benar, apakah Anda akan tetap hidup seperti sediakala atau apakah Anda seolah menyesuaikan diri Anda ke dalam konsepnya, misalnya dengan mengikuti anjuran, saran, arahan dari para ahli KEPRIBADIAN tersebut untuk kategori Anda, agar hidup Anda bahagia?
Mari berpikir sejenak.
Apakah hal-hal yang kita PERCAYAI mengenai SIAPA kita, NASIB kita, TAKDIR, SIFAT, KEPRIBADIAN, dll., adalah sebuah FAKTA, atau hanya sebuah BELIEF yang kita sendiri akhirnya WUJUDKAN sehari-hari karena kita PERCAYA itu adalah FAKTA.
Kalau itu adalah FAKTA, bukankah apapun yang kita pikirkan dan lakukan, tidak akan ada perubahan?
Apakah hidup kita se-KAKU itu?
Apakah kita semudah itu ter-PROGRAM?
Bagaimana kalau itu adalah sesuatu yang buruk dan bukan yang kita INGINKAN?
Apakah kita terima dan telan saja, karena merasa itu sudah NASIB, TAKDIR, atau apapun itu istilahnya?
Seperti di NLP, disarankan, kita tidak perlu berlama-lama berkutat di pergunjingan soal BENAR atau SALAH.
Termasuk apakah hal-hal mengenai NASIB, TAKDIR, SURATAN, RAMALAN, SIFAT, KEPRIBADIAN, dll, itu BENAR atau SALAH.
Kenapa tidak fokus saja pada apakah yang dipikirkan atau dipergunjingkan tersebut BERGUNA atau tidak untuk mencapai apa yang kita INGINKAN?
Kalau memang ada konsep yang ternyata justru membantu kita untuk mencapai apa yang kita INGINKAN, bungkus dan jadikan bagian dari diri kita.
Kalau tidak membantu dan malah membatasi kita dari kemampuan atau keinginan untuk bisa memikirkan atau melakukan sesuatu yang bisa membantu mencapai KEINGINAN kita, apakah worth it untuk kita jadikan bagian dari diri kita?
Apakah FUN untuk berada dalam sebuah kotak yang kita tahu membatasi kita dari berbagai KEMUNGKINAN yang exciting dan menantang di luar sana?
Better question: “IS IT MEANINGFUL AND USEFUL FOR US?
Just a thought, friend!
Just a thought!
(Hingdranata Nikolay)
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada
kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari
tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh
selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari
mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air
setengah penuh.
Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.
Setiap Orang Memiliki kekurangan
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”
“mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?”"Saya hanya mampu,
selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah
membuat mu rugi.”
Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas
kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air
berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan
cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di
sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata
air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat
memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.
Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.
Ini adalah quote dari tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan dan kebijaksaan, dimana kata-kata tersebut dapat memberi inspirasi bagi hidup anda dan memberi motivasi untuk melangkah maju menapaki masa depan yang cerah.
Lets get started:
Perbedaan terbesar antara wirausahawan dengan karyawan dalam hal risiko adalah; karyawan sangat takut mengambil risiko sehingga mereka berani mengambil risiko untuk tidak mengambil risiko.
Braveness is not without fear. It is the mastery of fear.
Misalnya, suatu hasil tindakan yang tidak sesuai harapan dipandang sebagai kegagalan. Padahal tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada adalah hasil yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.
“Aset paling berharga (dalam belajar) yang Anda miliki adalah sikap positif.”
~ Bobbi DePorter - Pakar Quantum Learning
“Dari semua yang kami temukan dalam riset kami, mungkin yang paling penting adalah ini: citra diri kita mungkin adalah unsur terpenting dalam menentukan apakah kita adalah pelajar yang baik—atau, jujur saja, apakah kita baik di bidang yang lain.”
~ Colin Rose - Pakar Accelerated Learning
“Dalam setiap sistem yang terbukti berhasil, yang kami pelajari di seluruh dunia, citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran.”
~ Gordon Dryden dan Jeannette Vos - Penulis buku Learning Revolution
”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk” dan "As a man thinking in his heart so is he".
Tidak ada satupun anak yang bodoh.
Yang ada adalah anak yang "dipaksa" menjadi bodoh.
~ Adi W Gunawan
Schools never teach us how to think
They only teach us what to think
~ Bill Gould
"Destiny is not a matter of chance, it is a matter of choice; it is not a thing to be waited for, it is a thing to be achieved."
~ William Jennings Bryan
"Change your thoughts and you change your world."
~ Norman Vincent Peale
Try not to become a man of success but rather try to become a man of value
~ Albert Einstein
"Wisdom is a life that knows it is living."
~ Moravian prayer book
Selama seseorang masih tetap memegang belief yang sama maka ia akan mendapat hasil yang sama. Tidak mungkin terjadi seseorang mendapat hasil yang berbeda dengan belief yang sama. Einstein menjelaskan dengan sangat tepat saat ia berkata, ”Insanity is doing the same thing over and over but expecting different result”.
“With great power comes great responsibility”
~ Ben Parker (Spiderman Movie)
Saya hanya berani. Itu saja. Karena di dunia nyata, hanya orang yang berani sajalah yang maju selangkah atau berlangkah-langkah dari yang lain.
~ Eni Kusuma - www.Pembelajar.com
Running away isn't a sin but doesn't accomplish anything.
If you give up now, you will never be freed from your past.
~ Orlha - Chrono cross
A leader is a person you will follow to a place you wouldn't go by yourself.
~ Joel Arthur Barker
There aren't any shortcut, if you want to "success" you'll have to accept that.
~ Konohamaru - "Naruto Anime"
You can't become "success" just by being special, you must try like crazy and work your ass off.
~ Naruto - "Naruto Shippuden"
coming soon (me at http://danitrump.blogspot.com)
Acceptance means
that you can find the serenity within
to let go of the past
with its mistakes and regrets,
and move into the future
with a new perspective,
appreciating the opportunity
to take a second chance.
Acceptance means
you’ll find security again
when difficult times come into your life,
and comfort to relieve any pain.
You’ll find new dreams, fresh hopes,
and forgiveness of the heart.
Acceptance does not mean
that you will always be perfect.
It simply means that
you’ll always overcome imperfection.
Acceptance is the road to peace -
letting go of the worst,
holding on to the best,
and finding the hope inside
that continues throughout life.
Acceptance
is the heart’s best defense,
love’s greatest asset,
and the easiest way
to keep on believing
in yourself and others.
Sometimes in our relentless efforts to find the person we love we fail to recognize and appreciate the people who love us. We miss out on so many beautiful things simply because we allow ourselves to be enslaved by selfish concerns. Go for the man of deeds and not the man of words for you will find rewarding happiness not with the man you love but with the man who loves you more. The best lovers are those capable of loving from a distance far enough to allow that person to grow, but never too far to feel the love deep with in your being. To let go of someone doesn’t mean you have to stop loving, it only means that you allow that person to find his own happiness without expecting him to come back. Letting go is not just setting the other person free, but it is also setting you free from all bitterness, hatred and anger that you keep in your heart. Do not let the bitterness rare away your strength and weaken your faith, and never allow pain to dishearten you, but rather let yourself grow with wisdom in bearing it. You may find peace in just loving someone from a distance not expecting anything in return. But be careful, for this can sustain life but can never give enough room for us to grow. We can all survive with just beautiful memories of the past but real peace and happiness come only with open acceptance of what reality is today. There comes a time in our lives when we chance upon someone so nice and beautiful and we just find ourselves getting so intensely attracted to that person. This feeling soon becomes a part of our everyday lives and eventually consumes our thoughts and actions. The sad part of it is when we get to realize that this person feels nothing more for us than just a friendship, we start our desperate attempt to get noticed and be closer but in the end our efforts are still unrewarded and we end up being sorry for ourselves. You don’t have to forget someone you love. What you need to learn to accept the verdict of reality without being bitter or sorry for yourself. Believe me you would be better off giving that dedication and love to someone more deserving. Don‘t let your heart run your life, be sensible and let your mind speak for itself. Listen not only to your feelings but to reason as well. Always remember that if you lose someone today, it means that someone better is coming tomorrow. If you lose love that doesn’t mean that you failed in love. Cry if you have to, but make it sure that the tears wash away the hurt and the bitterness that the past has left with you. Let go of yesterday and love will find its way back to you. And when it does, pray that it may be the love that will stay and last a lifetime. There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle; the other is though everything is a miracle.
Bayangkan anda saat berada di tengah
samudera di atas sebuah
speedboat. Lima puluh kilometer di depan
anda adalah sebuah
pulau, dan di pulau itu terdapat semua
yang anda inginkan dan
cita-citakan. Semua impian anda. Dan
satu-satunya cara untuk
mendapatkan itu semua adalah sampai ke
pulau tersebut. Pulau
itu ada di belakang cakrawala. Tapi
cakrawala yang mana?
Masalahnya adalah anda tidak punya
kompas, peta, radio,
telepon, dan anda tidak tahu mana arah
ke pulau tersebut.
Arah yang salah akan membuat anda
melenceng jauh sekali dari
pulau impian, sementara di sekeliling
anda yang terlihat cuma
laut dan langit. Dalam dua jam, anda
bisa saja telah sampai
di pulau impian. Tetapi bila anda salah
arah, anda bisa
kehabisan bahan bakar sebelum bisa
mencapai pulau impian.
Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa
mengetahui dan mengerti
kegunaan hidup anda, adalah sama dengan
dilema pulau impian.
Semua impian anda sebenarnya bisa
tercapai, namun untuk
mencapainya anda harus mengetahui apa,
di mana, dan bagaimana
mencapainya.
Anda mutlak mengetahui arah untuk
mencapainya, dan untuk
itu anda memerlukan peta. Tentukan peta
anda sekarang,
untuk dapat mencapai impian anda. Buat
seteliti dan seakurat
mungkin, dan selanjutnya anda tinggal
mengarahkan speedboat
ke pulau impian anda.
Cerita tukang batu Hiduplah seorang ahli batu yang sangat
terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri.
Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi
perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah
di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan
safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.
Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha
mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha
berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu.
Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat,
dan bersedia menjalani ujian.
"Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit," ucap sang ahli membuka pembicaraan.
"Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu
layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka
kamu harus mengulang ujian itu besok." Anak muda itu mendengarkan dengan
seksama. Ia mengangguk pelan, "Baiklah, itu pekerjaan mudah."
Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.
Disodorkannya ke arah muka si anak muda. "Ayo, ambil". Hap. Tampak kedua tangan
yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia
kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. "Kamu belum berhasil
anak muda. Cobalah besok." Sang pemuda tampak kecewa.
Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi,
dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian
itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah
terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak
putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti
dan tak mau menjadi ahli permata.
Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli
bertanya, "Kamu sudah siap?" Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas
gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, "Hei, tunggu dulu. Itu
bukan batu yang biasa kita gunakan!" Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda
malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari
sang ahli batu. "Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!"
Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan
mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan,
acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah
kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan.
Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu
untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu
bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi
pemenang? Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya
kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu
bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini
saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup.
Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian
kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.
Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President & CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?
Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.
Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri
judinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.
Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.
Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.
Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.
Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian
dibanding kedua kakaknya.
Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.
Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.
Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO?
Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu.
Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling
buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender.
Bagaimana jalan keluarnya?
Konsultan angkat tangan.
Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah. Lalu dipanggilnya ketiga anaknya.
Dibentangkannya persoalan secara gamblang.
Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing
memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga.
Dialog pun dimulai.
Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi.
“Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut.
Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian.
“Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi.
Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya.
Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat.
“Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya.
Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging.
“Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya.
Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong.
“Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja.
Lalu disulutnya dengan sebatang korek api.
“Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem.
Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.
Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at
any given situation.
Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.
Dari dulu botak memang ciri orang pintar.
Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada
the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.
Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat
bergelar master, doktor, dan profesor.
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdpt sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yg akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan itu, mereka mulai mencoba meraih pisang2 tersebut. Monyet A yang mula2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian ber-kali2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.
Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik?” protes keduanya”.
Ada teman2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.
Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas … Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yg diinginkannya.
Nah manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku anda saat ini?
Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka. Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri. Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.
Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal2 seperti ini, "Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia2 seperti itu. Percuma! Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya" atau mungkin kalimat "Kamu mau gagal kayak si X … lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh". Bukankah hal2 seperti itu yang sering kita dengar se-hari2?
Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. “Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal” adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.
Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.
Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata “Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar saja? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho”.
Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.
Berapa orang yang akan menjawab “Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama2 kaya?” Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.
Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi salah satu orang terkaya di dunia?
Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type A B C D, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.
Oleh krn itu jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda.
Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.
Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”
Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.
Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.
Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase.
Berhasil !
“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah.
“Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”
“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”
“Apa yang kamu katakan?” ,tanya sang apoteker.
“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”
“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”
Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”
“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya.
“Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi.
Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang.”
“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga.
“Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”
“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”
Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal….
Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut.
“Operasi itu,” bisik ibunya, “Adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”
Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan
Baca Artikel Lainnya:
- Lima Ekor Monyet
- Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?
- Tahta Untuk Sang Putri
